Thursday, June 02, 2011

Campur Kode dalam Rubrik “Ah… Tenane” Harian SOLOPOS

Nabila Inaya Jannati
Mahasiswa S1 Sastra Inggris UNS

Abstrak

Bahasa Indonesia sebahagi bahasa nasional, yang berfungsi sebagai alat komunikasi mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Kebenaran berbahasa akan berpengaruh terhadap kebenaran informasi yang disampaikan. Berbagai fenomena yang berdampak buruk pada kebenaran berbahasa yang disesuaikan dengan kaidahnya, dalam hal ini berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku salah satunya disebabkan oleh adanya gejala bahasa yaitu campur kode. Gejala bahasa seperti ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi kurang baik.
Campur kode lazimnya terjadi dalam bentuk bahasa tutur (lisan) tetapi tidak menutup kemungkinan adanya campur kode dalam bentuk tulis. Dalam hubungan ini campur kode tidak terjadi dalam bentuk lisan jika penutur menggunakan bahasa tulis, misalnya dalam rubrik “Ah… Tenane” Harian Solopos.

Bab I:
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Segala bentuk kegiatan manusia disertai oleh bahasa. Manusia berkomunikasi dengan bahasa, begitu juga ketika menyampaikan berita. Bahasa harus singkat, padat, dan jelas. Dewasa ini, manusia biasanya mengusai lebih dari satu bahasa. Pada umumnya menguasai bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing. Bahasa Indonesia digunakan secara nasional, sedangkan bahasa daerah digunakan untuk keperluan yang bersifat kedaerahan. Dalam masyarakat yang seperti ini, kontak bahasa mengakibatkan terjadinya beberapa kasus yang disebut interferensi, integrasi, alihkode, dan campur kode. Keempat peristiwa ini gejalanya sama, yaitu adanya unsur bahasa lain dalam bahasa yang digunakan tetapi konsep masalahnya tidak sama.
Salah satu kasus di atas yang akan dibahas di sini adalah campur kode. Campur kode adalah dua kode atau lebih digunakan bersama tanpa alasan ; dan biasanya terjadi dalam situasi santai. Kalau dalam situasi formal terjadi juga campur kode, maka biasanya karena ketiadaan ungkapan yang harusdigunakan dalam bahasa yang sedang dipakai (Chaer, 2007 : 69). Campur kode juga ditemukan dalam media massa Harian SOLOPOS, khususnya dalam rubrik “Ah… Tenane”. Rubrik yang sifatnya local karena merupakan cerita hasil kiriman pembacanya. Rata-rata pembacanya adalah warga Kota Solo. Sebagian besar campur kode yang terjadi di sini yaitu pemasukan unsur bahasa daerah kedalam bahasa Indonesia. Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba menganalisis adanya campur kode yang terdapat dalam rubrik “Ah… Tenane” Harian SOLOPOS.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah campur kode dalam rubrik “Ah… Tenane” Harian SOLOPOS?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan campur kode dalam rubrik “Ah… Tenane” Harian SOLOPOS.

D. Manfaat Penelitian
i.) Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan adanya campur kode dalam rubrik “Ah… Tenane” Harian SOLOPOS. Dengan itu, diharapkan pembaca memahami contoh-contoh campur kode dan alasan terbentuknya campur kode.
ii.) Penelitian ini memberi pengetahuan terhadap studi tentang campur kode dan diharapkan dapat menambah informasi tentang penggunaan bahasa khususnya campur kode.

E. Sistematika Laporan
Sistematika penulisan bertujuan untuk memberikan gambaran secara runtun dan memudahkan pelaksanaan penelitian. Sistematika penulisan yang dibuat oleh penulis sebagai berikut.
Halaman Judul
DAFTAR ISI
Abstrak
Bab I: Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
E. Sistematika Laporan
Bab II: Teori
A. Pengertian Campur Kode
B. Macam Campur Kode
C. Latar Belakang Terjadinya Campur Kode
Bab III: Metode
A. Metode Studi Pustaka
B. Metode Analisis
Bab IV: Analisis
Bab V: Simpulan
Daftar Pustaka

Bab II:
Teori

A. Pengertian Campur Kode
Campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosil, tingkat pendidikan, rasa keagamaan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Campur kode termasuk juga konvergense kebahasaan.

B. Macam Campur Kode
i.) Campur kode ke dalam (innercode-mixing)
Campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya.
ii.) Campur kode ke luar (outer code-mixing)
Campur kode yang berasal dari bahasa asing.

C. Latar Belakang Terjadinya Campur Kode
i.) Sikap (attitudinal type)
latar belakang sikap penutur
ii.) Kebahasaan (linguistic type)
latar belakang keterbatasan bahasa, sehingga ada alasan identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan.
Dengan demikian campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antaraperanan penutur, bentuk bahasa, dan fungsi bahasa.
Beberapa wujud campur kode,
1. penyisipan kata,
2. menyisipan frasa,
3. penyisipan klausa,
4. penyisipan ungkapan atau idiom, dan
5. penyisipan bentuk baster (gabungan pembentukan asli dan asing).

Bab III:
Metode

Metode penelitian adalah cara yang dilakukan untuk meneliti. Penulis menggunakan beberapa metode penelitian untuk membuat makalah ini.
A. Metode Studi Pustaka
Metode studi pustaka adalah metode pengumpulan data melalui sumber-sumber tertulis. Penulis menggunakan metode ini untuk mendapatkan pemahaman mengenai campur kode. Referensi mengenai campur kode juga diperoleh penulis dari beberapa situs komunitas sastra di internet. Hal ini membantu penulis untuk menganalisis campur kode dalam rubrik tersebut.
B. Metode Analisis
Analisis adalah pengujian sesuatu secara detail yang bertujuan untuk memahaminya dengan lebih baik dan mengambil kesimpulan dari objek analisis tersebut. Penulis menemukan contoh-contoh campur kode dalam rubrik tersebut, kemudian memahami sebab dan alasan penggunaan campur kode itu sendiri.


Bab IV:
Analisis

Penulis hanya menganalisis campur kode pada Harian SOLOPOS edisi Rabu Kliwon, 23 Desember 2009 rubrik “Ah… Tenane” berjudul Helm gondrong. Berikut campur kode yang teridentifikasi beserta keterangan yang menyertainya oleh penulis.
1. Judul: Helm gondrong
Pada judul di atas kata gondrong berasal dari bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia kata gondrong mempunyai arti rambut panjang. Kata gondrong digunakan dalam judul di atas karena merupakan istilah yang tepat mewakili maksud penulis.
2. Pas hari Minggu beberapa waktu lalu, Lady Cempluk yang bekerja sebagai staf Humas di sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Solo ini punya tiga acara sekaligus, yakni kebaktian, mengunjungi saudara, dan njagong manten.
Pada kalimat di atas kata pas berasal dari bahasa Jawa yang berarti ketika. Kata njagong dan kata manten berasal dari bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia njagong berarti menghadiri undangan, sedangkan manten berarti pengantin. Nama tokoh cerita yaitu Lady Cempluk, mengandung unsur bahasa asing dan bahasa Jawa. Kata Lady dari bahasa Inggris mempunyai arti nyonya dalam bahasa Indonesia, sedangkan kata Cempluk dari bahasa Jawa merupakan panggilan bagi gadis atau perempuan di daerah Jawa.
3. Setelah mendatangi acara-acara lain, Cempluk segera ngampiri Gendhuk Nicole sekaligus nunut ganti baju dan memakai wig untuk njagong manten temannya.
Pada kalimat di atas kata ngampiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti menjemput. Berikutnya, kata nunut yang juga berasal dari bahasa Jawa yang berarti menumpang. Nama tokoh cerita yaitu Gendhuk Nicole, mengandung unsur bahasa Jawa dan bahasa asing. Gendhuk merupakan panggilan bagi gadis atau perempuan, sedangkan Nicole adalah nama asing yang lazim digunakan oleh orang-orang Inggris dan Amerika.
4. Sampai di gedung resepsi si Cempluk turun dari motor, buka helm dan langsung ngetiging jalan kaki tanpa mikir sisiran lagi karena pikirnya wig tak perlu disisir.
Pada kalimat di atas terdapat kata ngetiging yang berasal dari bahasa Jawa dan mempunyai arti cepat-cepat beranjak. Kemudian terdapat kata mikir yang lazimnya dipakai dalam bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia seharusnya menjadi berpikir. Berikutnya, kata sisiran yang juga berasal dari bahasa Jawa dan seharusnya menjadi menyisir.
5. Dengan gaya sangat PD Cempluk senyum sana senyum sini sambil berhai-hai setiap ketemu kenalan.
Pada kalimat di atas, kata ketemu merupakan unsur bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia kata ketemu menjadi bertemu.
6. Cuma yang mengherankan, kalau biasanya teman-temannya pada ngalem dan-danannya, kali ini tidak, malah ada yang berkomentar. “Barusan bangun tidur ya?”
Pada kalimat di atas, kata ngalem yang berasal dari bahasa Jawa mempunyai arti memuji dalam bahasa Indonesia.
7. Begitu sampai di tempat penerima kado, Cempluk dibisiki seorang teman, “Bu! NuwunSewu, itu lho, rambutnya mbok ya disisir. Mosok mau resepsi kok rambutnya dikucir dan kepalanya ditutup harnal?”
Pada kalimat di atas, kata dibisiki berasal dari bahasa Jawa. Berikutnya terdapat istilah NuwunSewu yang berasal dari bahasa Jawa dan mempunyai maksud meminta maaf sebelumnya. Kata mbok ya juga merupakan unsur bahasa Jawa yang bisa diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi seharusnya dan lebih baik. Kata dikucir berasal dari bahasa Jawa yang berarti diikat, biasanya kata dikucir berhubungan dengan rambut.
8. Dengan gerak refleks Cempluk langsung pegang kepala… “Lho wigku endi?” batinnya…
Pada kalimat di atas, terdapat kalimat dalam bahasa Jawa “Lho wigku endi?” yang dalam bahasa Indonesia menjadi “Dimana wig saya?”. Berikutnya, kata batinnya juga merupakan unsur bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia lebih lazim menggunakan dalam hatinya berkata.
9. Dan benar saja, rambut palsu itu masih nyangkut di helmnya yang tadi ia pakai.
Pada kalimat diatas, terdapat kata nyangkut yang merupakan unsur bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia kata nyangkut tidak ditemukan.


Bab V:
Simpulan

Setelah menganalisis campur kode yang terdapat pada rubrik “Ah… Tenane” berjudul “Helm Gondrong”, terbit pada 23 Desember 2009 di Harian SOLOPOS, penulis menyimpulkan masih banyak terdapat campur kode pada rubrik tersebut. Hal ini mungkin disebabkan faktor-faktor berikut.
i.) Rubrik bersifat lokal
Dapat disimpulkan bahwa rubrik “Ah… Tenane” merupakan bagian dari Harian SOLOPOS yang beredar di Kota Solo dan sekitarnya. Diketahui bahawa pembacanya rata-rata adalah orang Solo yang memahami bahasa daerah, khusunya bahasa Jawa. Campur kode bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia tidak akan menjadi masalah bagi para pembaca.
ii.) Kepentingan Pembaca
Bagi para pembaca rubrik ini, campur kode justru akan mempermudah pemahaman mereka pada isi cerita tersebut. Mereka tidak perlu mengartikan istilah-istilah bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah yang mereka pahami karena sudah ditambahkan unsur bahasa daerah ke dalam cerita oleh penulisnya.
iii.) Kurangnya Pengetahuan Bahasa Indonesia
Rubrik “Ah… Tenane” merupakan hasil kiriman dari para pembacanya. Berisi tentang cerita pengalaman-pengalaman lucu dan menarik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang membuat cerita-cerita dalam rubrik ini adalah orang-orang lokal Solo. Ada kemungkinan bahwa pengetahuan bahasa Indonesia mereka lebih sedikit daripada pengetahuan bahasa daerah. Terjadi kesulitan untuk menemukan istilah-istilah tertentu dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga hal itu menyebabkan terjadinya campur kode.
iv.) Strategi Editor
Rubrik “Ah… tenane” disukai para pembaca karena cerita-cerita lucu yang ditampilkan. Penggunaan bahasa Indonesia secara lengkap justru akan menciptakan kesan kaku dan mengurangi kesan lucu dari sebuah cerita. Editor lebih memilih untuk menampilkan cerita secara apa adanya tanpa terlalu banyak mengoreksi penggunaan campur kode. Adanya campur kode justru akan lebih menarik minat pembaca. Kesan lucu dari cerita-cerita yang bersifat kedaerahan itu akan lebih terasa.


Rubrik “Ah… Tenane” Harian SOLOPOS edisi Rabu Kliwon 23 Desember 2009

Helm Gondrong

Pas hari Minggu beberapa waktu lalu, Lady Cempluk yang bekerja sebagai staf humas di sebuah Perguruan tinggi swasta di Kota Solo ini punya tiga acara sekaligus, yakni kebaktian, mengunjungi saudara, dan njagong manten. Setelah mendatangi acara lain-lain, Cempluk segera ngampiri Gendhuk Nicole sekaligus nunut ganti baju dan memakai wig untuk njagong manten temannya. Sampai di gedung resepsi si Cempluk turun dari motor, buka helm dan lagsung ngetiging jalan kaki tanpa mikir sisiran lagi karena pikirnya wig tak perlu disisir. Dengan gaya sangat PD Cempluk senyum sana senyum sini sambil berhai-hai setiap ketemu kenalan. Cuma yang mengherankan, kalau biasanya teman-temanya pada ngalem dan-danannya, kali ini tidak, malah ada yang berkomentar, “Barusan bangun tidur ya?”
Begitu sampai di tempat penerima kado, Cempluk dibisiki seorang teman. “Bu! NuwunSewu, itu lho, rambutnya mbok ya disisi. Mosok mau resepsi kok rambutnya dikucir dan ditutup harnal?” Dengan gaya reflex Cempluk langsung pegang kepala… “Lho wigku endi?” batinnya… Tanpa pikir panjang Cempluk langsung balik kanan dan cepat-cepat ke tempat parkir untuk mencari wignya. Dan benar saja, rambut palsu itu masih nyangkut di helmnya yang tadi ia pakai.

No comments:

Post a Comment